Kamis, 03 Desember 2015

New Story

PART 1 -continue-

Aku membuka mataku dan sinar lampu langsung menyambutku. Tembok biru yang menyejukkan mata dan bau obat-obatan membuatku langung menyadari kalau aku berada di UKS.
            “Salah, Bego! Nih ya, kalo misalnya ini udah dikali ini ya tinggal dibagi dua aja! Masa gituan aja lu gak tau sih?”
            “Lah tadi kata lu dikali dulu terus diakarin baru dibagi dua!”
            “Iya tadi lu bilang gitu!”
            “Emang tadi gue bilang gitu ya?”
            “Yah, sama begonya aja lo!”
            Aku duduk di kasur, lalu memandang teman-temanku yang tengah duduk di lantai sambil mengerjakan sesuatu.
            “Eh Kira udah bangun!” kata Lita.
            “Eh lo udah baik-baik aja, Ra? Udah enggak pusing lagi?” tanya Sanya.
            “Lo masih inget kita kan, Ra? Siapa nama gue?” Vea menunjuk dirinya. Dasar.
            “Emang lo pikir dia kecelakaan terus amnesia?!” Marsha menjitak pelan jidat Vea.
            “Kebanyakan nonton sinetron gitu tuh!” timpal Lita.
            “Udah deh, kasian tuh Kira pusing dengerin ocehan lu semua!” sahut Sanya.
            “Gue enggak papa,” akhirnya aku membuka mulut.
            “...”
            “Gue enggak papa,” ulangku lagi karena bukannya menyahut, mereka malah melongo. Apaan sih mereka.
            “Udah? Enggak papa doang? Enggak ada embel-embel ‘kenapa gue disini?’”
            “Dasar!” sekali lagi Marsha menjitak jidat Vea.
            “Bener-bener ya nih anak korban sinetron!” Lita menimpali sambil ikut menjitak jidat Vea.
            “Jadi usaha gue selama ini ngajarin lo itu sia-sia?! Emang bener-bener lo ya! Bukannya belajar, malah nonton sinetron!” satu jitakan lagi dari Sanya.
            Aku tertawa. “Udah ih kasihan tuh. Jidatnya udah jenong juga,”
            “Oh gitu lo ya sekarang, Ra! Mentang-mentang lo lagi sakit, lo seenaknya ngeledek gue? Emang lo pikir gara-gara lo sakit, gue enggak bisa mukul lo, hah? Lo masih ada utang pukulan sama gue lho dan gue akan bayar disini!” Vea mulai memasang kuda-kuda.
            “Vea, udah deh!” seru Sanya. “Ocehan lo tuh enggak penting, tau!”
            “Emang ocehan lo penting, hah?”
            “Ocehan lo berdua tuh enggak penting!”
            “Oh jadi lo ngerasa ocehan lo itu penting?”
            “Udah deh lo bertiga! Bisa diem gak?!”
            “Oh jadi lo sekarang ngerasa paling berkuasa disini? Asal lo tau, sebenernya ocehan lo yang paling enggak penting disini!”
            “Kalo mau berantem, diluar aja deh!” kataku kesal.
            “Oh iya gue baru inget!” tiba-tiba Marsha menjetikkan jarinya.
            “Oh iya bener!” Vea ikut-ikutan, walaupun aku tau sebenarnya dia enggak tahu apa yang dibicarakan Marsha.
            Sanya manggut-manggut. “Ra, misi pertama kita sukses! Ini semua karena lo, oleh lo dan buat lo!”
            “Udah kayak pemilu aja lo! Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat!” celetuk Lita.
            “Udah deh, enggak usah banyak ngomong!” sungut Marsha kesal, lalu kembali menatapku. “Sebentar lagi ... woi efek drum!”
            “Drmdrumdrmdrum ... dam!” Vea, Lita dan Sanya mulai membuat efek yang terdengar sangat mengerikan karena tidak beraturan.
            “... impian lo akan terkabul!!!” seru Marsha heboh sambil menggoyang-goyangkan kedua tangannya.
            Vea bahkan mulai melakukan salto, Sanya berteriak-teriak tidak jelas dan Lita berlari berputar-putar UKS.
            “Apa ... apaan sih?” tanyaku bingung.
            “KIRA JELEK, BENTAR LAGI LO BAKAL JADIAN SAMA RAVI!!”
            Lagi-lagi suasana mendadak ricuh. Vea menubrukkan jidatnya ke tembok, Sanya melompat-lompat kegirangan, Marsha menirukan suara tarzan, sedangkan Lita berguling-guling di lantai.
            “Apa yang ...” aku mengerutkan kening.
            Suasana mendadak hening. Aku menghela napas.
            “Gue enggak ngerti deh. Impian gue bakal terkabul? Gue bakal jadian sama Ravi? Maksudnya apaan sih?”
            “Jadi gini nih ...”
            “Drmdrmdrum—“
            “Gak usah ada efek!” potongku kesal sambil memandang galak Vea, Lita dan Sanya.
            “Oke, jadi sebenernya yang membawa elo ke UKS adalah Ravi! Dia yang menggendong lu dengan kekuatan seorang ksatria dan akhirnya elo berhasil sampai ke tempat tidur kerajaan.”
            Aku mengerjapkan mata. “Maksud lo yang gendong gue itu Ravi? Ravi yang itu?”
            “IYA, RA, IYA!” Vea manggut-manggut penuh kegembiraan.
            “Tenang Ra, lo jangan histeris! Lo harus tenang, karena sekarang lo lagi enggak enak badan. Gue tau kalo ini semua diluar dugaan lo!” Marsha menepuk-nepuk bahuku dengan mata berbinar-binar.
            “Kita tau elo sangat berterima kasih sama kita,” Lita memegang pergelangan tanganku dan aku hanya bisa melongo.
            Kalau tadi aku digendong Ravi, berarti Alvin melihat. Kalau sudah begitu, pasti dia enggak akan suka sama aku!
            “Oh iya ngomong-ngomong lo pingsan kenapa sih?” tanya Sanya.
            “Gue habis diliatin ...”
            “Hah? Diliatin siapa?”
            “Yaelah, kok lu bego banget sih, Ve, Ve! Ya pasti diliatin Ravi lah! Masa diliatin tukang sayur!” sahut Lita.
            “Yaudah sih, lo kenapa sih sensi banget?!” sahut Vea kesal.
            “Eh udah deh, lo pada berantem mulu sih!” sungut Sanya.

            “Yaudah, Ra, mendingan sekarang kita pulang yuk. Biar lo istirahat di rumah. Kita bakal tetap bantuin lo supaya elo ngedapetin Ravi. Tenang aja,” Marsha menepuk bahuku seolah memberiku semangat.
            Rasanya aku mau pingsan lagi.

***

Jendela itu masih terang benderang, yang berarti pemilik kamar belum tidur. Aku masih memandang jendela itu sambil tersenyum-senyum sendiri. Alvin. Dia adalah cowok pertama yang membuatku seperti ini. Yang membuatku mau duduk di depan rumahnya sambil memandangi jendela kamarnya dengan masker dan jaket kupluk berwarna hitam  yang membuatku terlihat seperti maling.
            Tapi aku tidak peduli walaupun dia telah membuatku gila. Aku benar-benar menyukainya. Aku menyukai semua tentangnya.
            Kurasakan gorden jendela itu bergerak-gerak dan lampu padam. Aku melirik jam tanganku. Sudah jam setengah sepuluh malam. Mungkin dia sudah tidur. Tapi tebak-tebakanku terhenti ketika tiba-tiba pintu rumahnya terbuka dan dia keluar sambil membawa gembok dan kunci.
            Lalu dia menoleh ke arahku. Untuk beberapa saat aku terpaku melihat tatapannya dan dia tampak sedang menerka-nerka siapa orang di balik jaket kupluk hitam dan masker mickey mouse berwarna biru.
            “Siapa ya?” tiba-tiba dia bertanya, membuatku terlonjak dan seketika kembali ke bumi. Aku sedang ada di depan rumahnya dan dia tengah menatapku.
            Buru-buru aku menaiki sepedaku, lalu dengan kecepatan tinggi, kutinggalkan rumah itu. Biarlah dia menebak-nebak siapa aku. Kutengokkan kepalaku ke belakang dan tentu saja dia tidak ada di sana.
            Aku tersenyum kecil. Dua kali kami berpandangan dan satu kali aku pingsan. Dia benar-benar membuatku hampir gila karena ini. Gadis umur 14 tahun mana yang mau menunggu di depan rumah gebetannya jam setengah sepuluh malam dan berpakaian seperti maling?
            Hanya aku dan itu untuk Alvin.
            Biar sajalah teman-temanku mengiraku menyukai Ravi atau apapun itu, hanya aku yang tau aku menyukai Alvin. Dan aku sungguh berharap dia juga mengetahui perasaanku ini. Mungkin aku harus menyatakan perasaanku ini, tapi itu masih bisa menunggu. Sekarang aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan.
            Untuk saat ini.

***

2 komentar: