Hi!! What's up, Readers?😁
My name is Khonsa Thufailla Vyanti, but you can call me Ocha. I'm 15 years old and I have 3 siblings. I like write stories, read novels, watch movies or anime and volley tournament. No I can't play volley, but I just like to watch it hahah😂😂 Hmm actually I like study, but sometimes I'm too lazy to do it😂
Btw, about movies, I really like action movie!! U know about superhero and bad guy, disaster etc. But I like drama or romance too who make me sad and cry😢 Yeah like main character who love someone so much, but in the end he died.
And about novels, I love fantasy novel like Percy Jackson, Steelheart etc. Besides, I like thriller novel by Beverly Barton😀
Hmm... because I like japan and english, I joined Lingua 4 in my highschool and I'm so excited about it!
I like Japan when I watch Naruto for the first time😊 and finally I watch many kind of anime! But I really like anime created by Kyoto Animation because picture, graphic and character is really nice. You must watch one of anime by KyoAni!
My goals after highschool is college, accounting major and I try to reach my dream. But my top dream is make my parents and my myself happy😊
Ngg ... what else should I talk about hahah😂
Hmm that's all about me and I hope you like my blog😆
Don't forget to give your comment📣 and like👍
Thank you😊
-Ocha-
Flower Wall
Senin, 07 November 2016
Senin, 31 Oktober 2016
-Puisi-
TINGGAL KENANGAN
Kepingan
masa lalu ...
Tampak
membayang ketika hujan turun
Terasa
beku seperti dinginnya salju,
Terasa lembut
seperti hembusan angin,
Terasa
hangat seperti dekapannya
Segala
kepingan itu mulai berdebu
Tersimpan
rapat di sudut waktu
Ditenggelamkan dalam kepingan gelora semu
Mulai hilang,
habis dan entah kemana
Karena kini segalanya
tinggalah kenangan
Kamis, 03 Desember 2015
New Story
PART 1 -continue-
Aku membuka mataku dan sinar lampu langsung menyambutku. Tembok biru yang menyejukkan mata dan bau obat-obatan membuatku langung menyadari kalau aku berada di UKS.
Aku membuka mataku dan sinar lampu langsung menyambutku. Tembok biru yang menyejukkan mata dan bau obat-obatan membuatku langung menyadari kalau aku berada di UKS.
“Salah, Bego! Nih ya, kalo misalnya
ini udah dikali ini ya tinggal dibagi dua aja! Masa gituan aja lu gak tau sih?”
“Lah tadi kata lu dikali dulu terus
diakarin baru dibagi dua!”
“Iya tadi lu bilang gitu!”
“Emang tadi gue bilang gitu ya?”
“Yah, sama begonya aja lo!”
Aku duduk di kasur, lalu memandang
teman-temanku yang tengah duduk di lantai sambil mengerjakan sesuatu.
“Eh Kira udah bangun!” kata Lita.
“Eh lo udah baik-baik aja, Ra? Udah
enggak pusing lagi?” tanya Sanya.
“Lo masih inget kita kan, Ra? Siapa
nama gue?” Vea menunjuk dirinya. Dasar.
“Emang lo pikir dia kecelakaan terus
amnesia?!” Marsha menjitak pelan jidat Vea.
“Kebanyakan nonton sinetron gitu
tuh!” timpal Lita.
“Udah deh, kasian tuh Kira pusing
dengerin ocehan lu semua!” sahut Sanya.
“Gue enggak papa,” akhirnya aku
membuka mulut.
“...”
“Gue enggak papa,” ulangku lagi
karena bukannya menyahut, mereka malah melongo. Apaan sih mereka.
“Udah? Enggak papa doang? Enggak ada
embel-embel ‘kenapa gue disini?’”
“Dasar!” sekali lagi Marsha menjitak
jidat Vea.
“Bener-bener ya nih anak korban
sinetron!” Lita menimpali sambil ikut menjitak jidat Vea.
“Jadi usaha gue selama ini ngajarin
lo itu sia-sia?! Emang bener-bener lo ya! Bukannya belajar, malah nonton
sinetron!” satu jitakan lagi dari Sanya.
Aku tertawa. “Udah ih kasihan tuh.
Jidatnya udah jenong juga,”
“Oh gitu lo ya sekarang, Ra!
Mentang-mentang lo lagi sakit, lo seenaknya ngeledek gue? Emang lo pikir
gara-gara lo sakit, gue enggak bisa mukul lo, hah? Lo masih ada utang pukulan
sama gue lho dan gue akan bayar disini!” Vea mulai memasang kuda-kuda.
“Vea, udah deh!” seru Sanya. “Ocehan
lo tuh enggak penting, tau!”
“Emang ocehan lo penting, hah?”
“Ocehan lo berdua tuh enggak
penting!”
“Oh jadi lo ngerasa ocehan lo itu
penting?”
“Udah deh lo bertiga! Bisa diem
gak?!”
“Oh jadi lo sekarang ngerasa paling
berkuasa disini? Asal lo tau, sebenernya ocehan lo yang paling enggak penting
disini!”
“Kalo mau berantem, diluar aja deh!”
kataku kesal.
“Oh iya gue baru inget!” tiba-tiba
Marsha menjetikkan jarinya.
“Oh iya bener!” Vea ikut-ikutan,
walaupun aku tau sebenarnya dia enggak tahu apa yang dibicarakan Marsha.
Sanya manggut-manggut. “Ra, misi
pertama kita sukses! Ini semua karena lo, oleh lo dan buat lo!”
“Udah kayak pemilu aja lo! Dari
rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat!” celetuk Lita.
“Udah deh, enggak usah banyak ngomong!”
sungut Marsha kesal, lalu kembali menatapku. “Sebentar lagi ... woi efek drum!”
“Drmdrumdrmdrum
... dam!” Vea, Lita dan Sanya mulai
membuat efek yang terdengar sangat mengerikan karena tidak beraturan.
“... impian lo akan terkabul!!!”
seru Marsha heboh sambil menggoyang-goyangkan kedua tangannya.
Vea bahkan mulai melakukan salto,
Sanya berteriak-teriak tidak jelas dan Lita berlari berputar-putar UKS.
“Apa ... apaan sih?” tanyaku
bingung.
“KIRA JELEK, BENTAR LAGI LO BAKAL
JADIAN SAMA RAVI!!”
Lagi-lagi suasana mendadak ricuh.
Vea menubrukkan jidatnya ke tembok, Sanya melompat-lompat kegirangan, Marsha
menirukan suara tarzan, sedangkan Lita berguling-guling di lantai.
“Apa yang ...” aku mengerutkan
kening.
Suasana mendadak hening. Aku
menghela napas.
“Gue enggak ngerti deh. Impian gue
bakal terkabul? Gue bakal jadian sama Ravi? Maksudnya apaan sih?”
“Jadi gini nih ...”
“Drmdrmdrum—“
“Gak usah ada efek!” potongku kesal
sambil memandang galak Vea, Lita dan Sanya.
“Oke, jadi sebenernya yang membawa
elo ke UKS adalah Ravi! Dia yang menggendong lu dengan kekuatan seorang ksatria
dan akhirnya elo berhasil sampai ke tempat tidur kerajaan.”
Aku mengerjapkan mata. “Maksud lo
yang gendong gue itu Ravi? Ravi yang itu?”
“IYA, RA, IYA!” Vea manggut-manggut
penuh kegembiraan.
“Tenang Ra, lo jangan histeris! Lo
harus tenang, karena sekarang lo lagi enggak enak badan. Gue tau kalo ini semua
diluar dugaan lo!” Marsha menepuk-nepuk bahuku dengan mata berbinar-binar.
“Kita tau elo sangat berterima kasih
sama kita,” Lita memegang pergelangan tanganku dan aku hanya bisa melongo.
Kalau tadi aku digendong Ravi,
berarti Alvin melihat. Kalau sudah begitu, pasti dia enggak akan suka sama aku!
“Oh iya ngomong-ngomong lo pingsan
kenapa sih?” tanya Sanya.
“Gue habis diliatin ...”
“Hah? Diliatin siapa?”
“Yaelah, kok lu bego banget sih, Ve,
Ve! Ya pasti diliatin Ravi lah! Masa diliatin tukang sayur!” sahut Lita.
“Yaudah sih, lo kenapa sih sensi
banget?!” sahut Vea kesal.
“Eh udah deh, lo pada berantem mulu
sih!” sungut Sanya.
“Yaudah, Ra, mendingan sekarang kita
pulang yuk. Biar lo istirahat di rumah. Kita bakal tetap bantuin lo supaya elo
ngedapetin Ravi. Tenang aja,” Marsha menepuk bahuku seolah memberiku semangat.
Rasanya aku mau pingsan lagi.
***
Jendela
itu masih terang benderang, yang berarti pemilik kamar belum tidur. Aku masih
memandang jendela itu sambil tersenyum-senyum sendiri. Alvin. Dia adalah cowok
pertama yang membuatku seperti ini. Yang membuatku mau duduk di depan rumahnya
sambil memandangi jendela kamarnya dengan masker dan jaket kupluk berwarna
hitam yang membuatku terlihat seperti
maling.
Tapi aku tidak peduli walaupun dia
telah membuatku gila. Aku benar-benar menyukainya. Aku menyukai semua
tentangnya.
Kurasakan gorden jendela itu
bergerak-gerak dan lampu padam. Aku melirik jam tanganku. Sudah jam setengah
sepuluh malam. Mungkin dia sudah tidur. Tapi tebak-tebakanku terhenti ketika tiba-tiba
pintu rumahnya terbuka dan dia keluar sambil membawa gembok dan kunci.
Lalu dia menoleh ke arahku. Untuk
beberapa saat aku terpaku melihat tatapannya dan dia tampak sedang
menerka-nerka siapa orang di balik jaket kupluk hitam dan masker mickey mouse berwarna biru.
“Siapa ya?” tiba-tiba dia bertanya,
membuatku terlonjak dan seketika kembali ke bumi. Aku sedang ada di depan
rumahnya dan dia tengah menatapku.
Buru-buru aku menaiki sepedaku, lalu
dengan kecepatan tinggi, kutinggalkan rumah itu. Biarlah dia menebak-nebak
siapa aku. Kutengokkan kepalaku ke belakang dan tentu saja dia tidak ada di
sana.
Aku tersenyum kecil. Dua kali kami
berpandangan dan satu kali aku pingsan. Dia benar-benar membuatku hampir gila
karena ini. Gadis umur 14 tahun mana yang mau menunggu di depan rumah
gebetannya jam setengah sepuluh malam dan berpakaian seperti maling?
Hanya aku dan itu untuk Alvin.
Biar sajalah teman-temanku mengiraku
menyukai Ravi atau apapun itu, hanya aku yang tau aku menyukai Alvin. Dan aku
sungguh berharap dia juga mengetahui perasaanku ini. Mungkin aku harus
menyatakan perasaanku ini, tapi itu masih bisa menunggu. Sekarang aku hanya
bisa menatapnya dari kejauhan.
Untuk saat ini.
***
New Story
PART 1
Mataku tidak lepas dari Alvin yang tengah berlarian mengejar bola. Entah kenapa aku suka caranya berlarian. Aku suka ketika dia mengeluh saat bola yang sedang digiringnya diambil alih orang lain. Tapi dia tidak menyerah. Dia tetap bermain, padahal siang itu panas sekali. Aku yang baru lari dua putaran keliling lapangan saja sudah tidak kuat lagi dan memilih berteduh di pinggir lapangan bersama teman-temanku.
Tapi dia tidak.
Yah, aku tahu dia tidak sendiri. Ada teman-temannya yang sebenarnya juga rela panas-panasan demi memenuhi hobi main bola mereka. Tapi tidak ada yang semenarik Alvin. Entah kenapa.
“Hoi!”
Aku bergidik, lalu menoleh ke sebelah kanan. “Ngapain sih lo?”
“Lha kenapa sih, sewot amat,” kata Vea sambil membuka kaleng soft drink.
Aku memandangnya kesal. “Emang boleh ke kantin?”
“Enggak.” Sahutnya enteng. “Tapi gue haus, gimana dong?”
Aku tidak menyahutnya dan memilih memandangi Alvin.
“Ngeliatin siapa sih lo?” dia mengikuti arah pandangku. “Ya ampun, lo ngeliatin Ravi?”
“Ravi?”
“CIEEEE ...!!” teriaknya heboh. “Eh, temen-temen, si Kira naksir Ravi tau!”
“Ha? Serius, Kir?” langsung saja Marsha menerjangku.
“Eh apaan sih lo Ve!” aku memukul bahunya keras.
“Awww!! Sakit, tau! Gak usah mukul-mukul napa! Udah sih biar semua di sini bantuin lo biar lo cepet-cepet jadian sama Ravi! Lo bukannya bersyukur gue bantuin!”
“Bersyukur darimana? Gue itu bukan ngeliatin Ravi, gue ngeliatin Al—“ kata-kataku terhenti ketika melihat Alvin dan yang lain menuju ke pinggir lapangan.
Aku menatap Alvin dalam-dalam, tapi dia tetap tidak melihatku. Dia hanya sibuk mengobrol dengan Givary sambil tertawa-tawa. Kombinasi tawa dan sinar matahari yang menyinarinya benar-benar membuatku meleleh.
“Eh, lo ngapain sih? Ayo ke kelas!” lagi-lagi Vea menepuk bahuku. “Udah tenang aja! Kita bakal bantuin lo buat jadian sama Ravi kok!”
“Kita?” aku mengerutkan kening.
“Iya. Sekelas,” sahut Vea sambil cengar-cengir. “Marsha sama Lita udah bantu nyebarin ke anak cowok kok buat bantuin lo. Ravi enggak akan tau tentang ini kok.”
“Hah? Apa?” aku masih belum bisa mencerna informasi itu, tapi aku melihat Alvin sedang mengobrol dengan Marsha, lalu dia melihatku.
Dia melihatku dan semua gelap.
***
Langganan:
Komentar (Atom)