PART 1 -continue-
Aku membuka mataku dan sinar lampu langsung menyambutku. Tembok biru yang menyejukkan mata dan bau obat-obatan membuatku langung menyadari kalau aku berada di UKS.
Aku membuka mataku dan sinar lampu langsung menyambutku. Tembok biru yang menyejukkan mata dan bau obat-obatan membuatku langung menyadari kalau aku berada di UKS.
“Salah, Bego! Nih ya, kalo misalnya
ini udah dikali ini ya tinggal dibagi dua aja! Masa gituan aja lu gak tau sih?”
“Lah tadi kata lu dikali dulu terus
diakarin baru dibagi dua!”
“Iya tadi lu bilang gitu!”
“Emang tadi gue bilang gitu ya?”
“Yah, sama begonya aja lo!”
Aku duduk di kasur, lalu memandang
teman-temanku yang tengah duduk di lantai sambil mengerjakan sesuatu.
“Eh Kira udah bangun!” kata Lita.
“Eh lo udah baik-baik aja, Ra? Udah
enggak pusing lagi?” tanya Sanya.
“Lo masih inget kita kan, Ra? Siapa
nama gue?” Vea menunjuk dirinya. Dasar.
“Emang lo pikir dia kecelakaan terus
amnesia?!” Marsha menjitak pelan jidat Vea.
“Kebanyakan nonton sinetron gitu
tuh!” timpal Lita.
“Udah deh, kasian tuh Kira pusing
dengerin ocehan lu semua!” sahut Sanya.
“Gue enggak papa,” akhirnya aku
membuka mulut.
“...”
“Gue enggak papa,” ulangku lagi
karena bukannya menyahut, mereka malah melongo. Apaan sih mereka.
“Udah? Enggak papa doang? Enggak ada
embel-embel ‘kenapa gue disini?’”
“Dasar!” sekali lagi Marsha menjitak
jidat Vea.
“Bener-bener ya nih anak korban
sinetron!” Lita menimpali sambil ikut menjitak jidat Vea.
“Jadi usaha gue selama ini ngajarin
lo itu sia-sia?! Emang bener-bener lo ya! Bukannya belajar, malah nonton
sinetron!” satu jitakan lagi dari Sanya.
Aku tertawa. “Udah ih kasihan tuh.
Jidatnya udah jenong juga,”
“Oh gitu lo ya sekarang, Ra!
Mentang-mentang lo lagi sakit, lo seenaknya ngeledek gue? Emang lo pikir
gara-gara lo sakit, gue enggak bisa mukul lo, hah? Lo masih ada utang pukulan
sama gue lho dan gue akan bayar disini!” Vea mulai memasang kuda-kuda.
“Vea, udah deh!” seru Sanya. “Ocehan
lo tuh enggak penting, tau!”
“Emang ocehan lo penting, hah?”
“Ocehan lo berdua tuh enggak
penting!”
“Oh jadi lo ngerasa ocehan lo itu
penting?”
“Udah deh lo bertiga! Bisa diem
gak?!”
“Oh jadi lo sekarang ngerasa paling
berkuasa disini? Asal lo tau, sebenernya ocehan lo yang paling enggak penting
disini!”
“Kalo mau berantem, diluar aja deh!”
kataku kesal.
“Oh iya gue baru inget!” tiba-tiba
Marsha menjetikkan jarinya.
“Oh iya bener!” Vea ikut-ikutan,
walaupun aku tau sebenarnya dia enggak tahu apa yang dibicarakan Marsha.
Sanya manggut-manggut. “Ra, misi
pertama kita sukses! Ini semua karena lo, oleh lo dan buat lo!”
“Udah kayak pemilu aja lo! Dari
rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat!” celetuk Lita.
“Udah deh, enggak usah banyak ngomong!”
sungut Marsha kesal, lalu kembali menatapku. “Sebentar lagi ... woi efek drum!”
“Drmdrumdrmdrum
... dam!” Vea, Lita dan Sanya mulai
membuat efek yang terdengar sangat mengerikan karena tidak beraturan.
“... impian lo akan terkabul!!!”
seru Marsha heboh sambil menggoyang-goyangkan kedua tangannya.
Vea bahkan mulai melakukan salto,
Sanya berteriak-teriak tidak jelas dan Lita berlari berputar-putar UKS.
“Apa ... apaan sih?” tanyaku
bingung.
“KIRA JELEK, BENTAR LAGI LO BAKAL
JADIAN SAMA RAVI!!”
Lagi-lagi suasana mendadak ricuh.
Vea menubrukkan jidatnya ke tembok, Sanya melompat-lompat kegirangan, Marsha
menirukan suara tarzan, sedangkan Lita berguling-guling di lantai.
“Apa yang ...” aku mengerutkan
kening.
Suasana mendadak hening. Aku
menghela napas.
“Gue enggak ngerti deh. Impian gue
bakal terkabul? Gue bakal jadian sama Ravi? Maksudnya apaan sih?”
“Jadi gini nih ...”
“Drmdrmdrum—“
“Gak usah ada efek!” potongku kesal
sambil memandang galak Vea, Lita dan Sanya.
“Oke, jadi sebenernya yang membawa
elo ke UKS adalah Ravi! Dia yang menggendong lu dengan kekuatan seorang ksatria
dan akhirnya elo berhasil sampai ke tempat tidur kerajaan.”
Aku mengerjapkan mata. “Maksud lo
yang gendong gue itu Ravi? Ravi yang itu?”
“IYA, RA, IYA!” Vea manggut-manggut
penuh kegembiraan.
“Tenang Ra, lo jangan histeris! Lo
harus tenang, karena sekarang lo lagi enggak enak badan. Gue tau kalo ini semua
diluar dugaan lo!” Marsha menepuk-nepuk bahuku dengan mata berbinar-binar.
“Kita tau elo sangat berterima kasih
sama kita,” Lita memegang pergelangan tanganku dan aku hanya bisa melongo.
Kalau tadi aku digendong Ravi,
berarti Alvin melihat. Kalau sudah begitu, pasti dia enggak akan suka sama aku!
“Oh iya ngomong-ngomong lo pingsan
kenapa sih?” tanya Sanya.
“Gue habis diliatin ...”
“Hah? Diliatin siapa?”
“Yaelah, kok lu bego banget sih, Ve,
Ve! Ya pasti diliatin Ravi lah! Masa diliatin tukang sayur!” sahut Lita.
“Yaudah sih, lo kenapa sih sensi
banget?!” sahut Vea kesal.
“Eh udah deh, lo pada berantem mulu
sih!” sungut Sanya.
“Yaudah, Ra, mendingan sekarang kita
pulang yuk. Biar lo istirahat di rumah. Kita bakal tetap bantuin lo supaya elo
ngedapetin Ravi. Tenang aja,” Marsha menepuk bahuku seolah memberiku semangat.
Rasanya aku mau pingsan lagi.
***
Jendela
itu masih terang benderang, yang berarti pemilik kamar belum tidur. Aku masih
memandang jendela itu sambil tersenyum-senyum sendiri. Alvin. Dia adalah cowok
pertama yang membuatku seperti ini. Yang membuatku mau duduk di depan rumahnya
sambil memandangi jendela kamarnya dengan masker dan jaket kupluk berwarna
hitam yang membuatku terlihat seperti
maling.
Tapi aku tidak peduli walaupun dia
telah membuatku gila. Aku benar-benar menyukainya. Aku menyukai semua
tentangnya.
Kurasakan gorden jendela itu
bergerak-gerak dan lampu padam. Aku melirik jam tanganku. Sudah jam setengah
sepuluh malam. Mungkin dia sudah tidur. Tapi tebak-tebakanku terhenti ketika tiba-tiba
pintu rumahnya terbuka dan dia keluar sambil membawa gembok dan kunci.
Lalu dia menoleh ke arahku. Untuk
beberapa saat aku terpaku melihat tatapannya dan dia tampak sedang
menerka-nerka siapa orang di balik jaket kupluk hitam dan masker mickey mouse berwarna biru.
“Siapa ya?” tiba-tiba dia bertanya,
membuatku terlonjak dan seketika kembali ke bumi. Aku sedang ada di depan
rumahnya dan dia tengah menatapku.
Buru-buru aku menaiki sepedaku, lalu
dengan kecepatan tinggi, kutinggalkan rumah itu. Biarlah dia menebak-nebak
siapa aku. Kutengokkan kepalaku ke belakang dan tentu saja dia tidak ada di
sana.
Aku tersenyum kecil. Dua kali kami
berpandangan dan satu kali aku pingsan. Dia benar-benar membuatku hampir gila
karena ini. Gadis umur 14 tahun mana yang mau menunggu di depan rumah
gebetannya jam setengah sepuluh malam dan berpakaian seperti maling?
Hanya aku dan itu untuk Alvin.
Biar sajalah teman-temanku mengiraku
menyukai Ravi atau apapun itu, hanya aku yang tau aku menyukai Alvin. Dan aku
sungguh berharap dia juga mengetahui perasaanku ini. Mungkin aku harus
menyatakan perasaanku ini, tapi itu masih bisa menunggu. Sekarang aku hanya
bisa menatapnya dari kejauhan.
Untuk saat ini.
***